Ours

Ours

Wednesday, 14 January 2015

The Darkest Mind & Never Fade



Walaupun doyan baca, tapi aku ga pinter nge review buku. Jadi ini bukan review buku ya, cuma cerita dikit aja ttg buku yang barusan aku selesaiin bacanya. Belinya dalam rangka kebosenan tahun baru 2015 :)

Sudah pernah bilang kan kalo aku hobi baca buku, dari kecil sampe sekarang.
Novel lo ya, fiksi biasanya, tapi non fiksi juga ga nolak asal bagus. Aku ga gitu demen buku motivasi, tapi kalo biography orang terkenal aku suka.

Buku terbaru yang aku baca adalah trilogy karya Alexandra Bracken.
Karena genre-nya distopia, trus mau ditayangin di bioskop, jadi aku beli. Kayaknya belum terlalu terlambat soalnya buku ke tiga barusan aja keluar di amrik sono, tapi belum keluar di Indo

Buku ini kayak buku distopia lainnya, menggambarkan future yang kelam. Kayaknya masa depan di buku2 fiksi nih pada kelam2 dan susah2 semua.
Adaptasi sedikit dari film X Men, di masa depan digambarkan semua anak kecil pada kena penyakit, yang kalo ga mati ya anaknya jadi punya kekuatan goib. Ada 5 macam unsur kekuatan, yang pastinya bikin heboh tralala.

Hijau itu kekuatan paling rendah, anaknya jadi jenius. Pinter math, komputer dan memecahkan sandi
Biru itu kekuatan memindahkan benda
Kuning itu kekuatan memanipulasi elektricity - yang kalo mereka di hutan tanpa listrik means powerless
Merah itu kekuatan  memanipulasi api.
Oranye itu kekuatan memanipulasi pikiran manusia.

Paling bahaya adalah Oranye, lalu Merah trus Kuning.
Oranye kalo dilatih bisa dengan cepat memanipulasi isi pikiran manusia dan memasukan pikirannya ke dalam pikiran orang lain. Asik itu. Aku juga mau punya kekuatan macem gitu :)
Nah karena mereka masih pada kecil2, jadi ga tau cara mengendalikan kekuatannya. Mereka pada ditangkap dan 'dibina' di camp khusus.
Ceritanya nih pemerintah pada takut dengan mereka terutama yang orens dan merah.

Ada yang aneh? Iya pastilah namanya juga fiksi. Di camp pemerintah itu mereka anak2 dipisah sesuai dengan urutan warna, ditest dulu, trus dipisah.
Yang seremnya warna merah dan orens dipakein borgol dan ga bebas kemana2. Ga masuk akal kan, zzaman makin maju tapi kok kayak gitu mikirnya. Sementara ijo dan biru lebih bebas berkeliaran.
Ga masuk akalnya juga karena pemerintah ga memanfaatkan mereka yang ijo2. Zaman skrg anak jenius dipuja2, dipelihara baek2, dapet beasiswa. Rata2 mama2 pada ngarep bisa melahirkan anak jenius, dikasih musik pas baby, dikasih salmon berlebihan hihihi. Di zaman masa depan di buku itu, anak jenius malah disuruh kerja di pabrik yang kerjaannya ga pake mikir tapi rutin dan monoton, biar pinternya ga keliatan. #drooling eyes
Trus orang tuanya ada yang saking takutnya sampe ngedaftarin anaknya sendiri ke camp yang dimana mereka tau itu camp sesat yang bikin anaknya menderita. Yah well, yang terakhir ini masuk akal sih, zaman skrg aja banyak ortu yang menyia2kan anaknya kan?

Anyway, secara keseluruhan buku ini bagus, imajinasinya oke. Kalo gak kan ga mungkin aku beli buku kedua.Tokohnya digambarkan sebagai orang yang penuh dilema (as usual) yang mempunyai hati kepahlawanan luar biasa. Kebingungan kiri kanan dalam bertindak...tapi tetep aja...hati'gryffindor' nya merajalela. Mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan banyak orang.


Satu lagi, kayaknya setiap novel selalu ada adegan love ya. Kayak tema wajib.
Di novel ini once again, tokoh utamanya very bery pretty, dan 'selalu' aja ga sadar kalo dia cakep.

Apa aku suka tokoh utamanya? mmmhh biasa aja, karena aku lebih suka dengan karakter yang sifatnya nyata, seperti chubs yang sinis dan sarkasme, Vida yang egois tapi pada dasarnya baik, suzume yang lucu dan spontan atau Clancy yang serakah, daripada tokoh utama yang baik hati ga ketulungan, selalu merasa bersalah, selalu kepingin menolong orang lain, bahkan yang ga dikenal sekalipun.

Sarkasme? Yeah mungkin karena hatiku ga ber merk gryffindor :)



No comments:

Post a Comment