Ours

Ours

Monday, 4 January 2016

2015 Efek Gaji Buruh


2015 ini tahun yang berat untuk perekonomian. Karena bekerja di perindustrian yang B to B (business to business) aku merasakan sendiri banyak perusahaan yang gulung tikar. Sam bekerja di industri B to C (business to customer) juga gak jauh beda.
Salah satunya juga karena efek dari kenaikan gaji buruh. Menurutku pribadi sih, gaji buruh boleh2 aja naik setinggi mungkin, namun harus diimbangi dengan kualitas kinerja, yang mana di Indonesia ini kayaknya masih kurang. Beberapa perusahaan yang based international mulai besar2an mengurangi tenaga kerja dan menggantinya dengan mesin. Sedangkan yang medium kebawah mereka mulai berencana untuk relokasi, langsung pindah negara sekalian.

Kenapa? Karena perbandingannya begini, dengan mesin yang sama, mereka mendapatkan result atau hasil yang berbeda di China atau di Indonesia. Gaji UMK di China setauku Rp 4 juta keatas, 2x lipet gaji UMK di Indonesia. Tapi kalo di China 1 mesin butuh 4 orang, di Indonesia kalau mau dengan result dan kecepatan yang sama, mereka butuh 8 orang. Kalau gaji di Indonesia cuma setengah dari China, its fine with them. Lah tapi kalo gaji udah Rp 3 jutaan kan jadinya kalo kerja di Indonesia jadi lebih mahal jatuhnya, dan kabarnya akan naik terus lo UMK ini, mereka cepet2 relokasi (kebanyakan ke Vietnam) terutama untuk pabrik2 yang padat karya.

Kerjaanku muter2 pabrik lain juga, ngobrol2 juga, jadi sedikit banyak aku tahu kinerja buruh di Indonesia. Ga mewakili sih, kan ga semua pekerja tuh seperti yang aku lihat.
Istilahnya apa ya...kurang bertanggung jawab dan kurang punya rasa memiliki. Maklum sih, emang ga ikut punya saham kan ya, hohoho.
Mereka selain bekerja standard dengan kecepatan yang standard, juga ga mau repot atau dipacu.
Di pabrik tempat ku bekerja sendiri ada yang namanya mesin cetak karet. Kalau mau rajin aja, bisa 4x tutup mesin cetak (ada bukti nyata) . Tapi nyatanya di tempatku cuma 2x tutup mesin.
Dianalisis dong, problemnya ternyata di speed. Kecepatan sumber daya manusianya, jalannya lambat, dan kerjanya satu-satu, mau jalan dari kiri ke kanan aja lamban sekali.

Iya sih, kerja cepet dan kerja lambat gajinya sama. Kebanyakan moto-nya memang begitu Itu jangka pendeknya, jangka panjangnya beda dong. Atasan pasti lihat hasil akhir dan menghargai yang bekerja dengan baik. Kalaupun ada atasan kurang ajar yang gak lihat, Tuhan ga merem juga. Masak udah kerja berat2 dari dulu sampe sekarang cuma bagian disuruh2 doang.

Perusahaan yang gak relokasi akhirnya menekan karyawannya dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah kalo ke belakang di-menit-in, hehehe, kentara banget kalo ke kamar mandi demen lama2.

Kenaikan UMK kalo ga diimbangi dengan kualitas kerja, hasilnya pasti buruk.
Karena
1. Perusahaan relokasi yang berakibat pada banyaknya pengangguran -> ga menikmati kenaikan UMK
2. Perusahaan menaikkan harga jual -> walaupun gaji naik tapi kalau barang2 naik kan ya sama aja -> ga menikmati kenaikan UMK
Buntut2nya masyarakat medium ke bawah juga yang merasakan akibatnya.

Kayak aku sekarang nih, susu naik, uang les naik, belanja pasar naik, gaji sus naik.
Semua pada naik, kecuali satu yang belum ikutan naik
Apa itu?
Uang gaji ku
Bwahahahaaha



2 comments:

  1. Aku juga merasa begitu.
    Suamiku pengusaha B2B juga, dia kasih aku duit belanja seret banget sepanjang tahun lalu. Aku nggak tega mau minta lebih, lha aku sendiri bisnis saham dan portofolioku hampir tiarap juga sepanjang 2015 ini padahal sudah diversifikasi di semua sektor.

    Tapi aku nggak pesimis. Menurut yang aku baca di Business Insider, orang China masih lebih senang buka cabang perusahaan mereka di Indonesia daripada di negara-negara Asia Tenggara lain. Faktor orang Indonesia masih bangga ngomong English yang bikin kelebihan Indonesia menonjol daripada Viet. Mudah-mudahan beratnya perekonomian 2015 ini berlalu di tahun 2016 ini. Lagian hasil pemerintahan yang baru juga udah mulai kelihatan kok, lebih bagus daripada tahun-tahun sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga ya. Karena memang efek kebijakan ekonomi ini baru bisa dinikmati jgka panjang.

      Delete